Miris, Sekolah yang Terlupakan di Pelosok Nagari
Donasi Terkumpul
Kisah
Di sebuah kampung terpencil bernama Tenggo, tersembunyi di balik rimbunnya hutan lindung di Nagari Air Bangis, Pasaman Barat—berdiri sebuah sekolah kecil. Bukan gedung megah. Bukan sekolah berfasilitas lengkap. Tapi tempat ini adalah satu-satunya harapan anak-anak untuk mengenal dunia selain kebun dan tanah.
_1753159007.jpg)
Mereka menyebutnya “Lokal Jauh”, karena memang letaknya jauh dari segalanya. Jauh dari kota. Jauh dari jaringan internet. Bahkan jauh dari akses pendidikan yang layak.
Sekolah ini dibangun sejak 2012, bukan oleh pemerintah, tapi oleh warga sendiri. Para orang tua di Tenggo takut anak-anak mereka tumbuh tanpa bisa baca tulis.
Karena untuk ke sekolah utama—jaraknya bisa mencapai 22 kilometer, dengan waktu tempuh 2 jam melewati jalanan tanah yang rusak. Motor? Tak semua punya.
Maka mereka swadaya. Menyulap tanah kosong milik negara menjadi ruang belajar seadanya. Dengan 4 ruang kelas, 30 siswa, dan hanya 3 guru lulusan SMK. Tak ada satu pun dari mereka lulusan sarjana pendidikan. Mereka mengajar dengan hati, walau digaji dari patungan Rp 40.000 per KK yang bahkan sering tak terkumpul karena penghasilan warga hanya Rp 70 ribu per hari, dan itupun hanya bisa bekerja sekitar 12 hari dalam sebulan.
Di sekolah ini, bangku-bangku banyak yang patah. Lantainya berdebu. Tak ada MCK, hingga anak-anak harus ke semak atau menggali tanah jika ingin buang air. Tak ada musala untuk salat. Tak ada lemari buku, karena memang tak ada buku yang bisa disimpan.
Tapi anak-anak itu datang setiap hari. Dengan seragam sekolah yang lusuh, sebagian tanpa alas kaki, menempuh jalan yang licin dan berbatu.
Mereka belajar dalam keterbatasan, tapi tak kehilangan semangat.
Mereka tertawa, meski dinding kelas mereka retak.
Mereka mengeja mimpi, meski dunia tak memberi banyak pilihan.
Update
Belum ada update
Nama Donatur
-
NA
Hamba Allah
8 bulan yang lalu
RP. 40,000
-
NA
Hamba Allah
9 bulan yang lalu
RP. 10,314