Kisah

Setitik Harapan di Langkah Kecil Rasidin, Anak Yatim yang Ingin Terus Sekolah

Di Balik Langkah Kecil Seorang Anak, Ada Perjuangan yang Tak Pernah Terlihat

Di sebuah sudut kecil di Lombok Tengah, ada seorang anak bernama Rasidin, anak yatim yang kini duduk di bangku kelas 5 MI di Pesantren Nurul Yaqin.

Langkahnya tampak biasa, seperti anak-anak lainnya yang pergi ke sekolah setiap pagi. Namun di balik langkah kecil itu, tersimpan perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar terlihat oleh banyak orang.

Rasidin tumbuh dalam pelukan keterbatasan. Sejak kehilangan ayahnya, ia hanya hidup bersama ibu dan neneknya yang setiap hari merajut ulang hidup dari keadaan yang serba kurang, namun tetap berusaha menjaga agar hari-hari tidak runtuh begitu saja.

Namun di balik segala kekurangan itu, Rasidin tak pernah benar-benar berhenti melangkah. Setiap pagi ia tetap menapaki jalan menuju sekolahnya, dengan langkah kecil yang diam-diam menyimpan harapan besar yang tak pernah ia ucapkan. Ia tetap duduk di bangku kelasnya, menyimak satu demi satu pelajaran yang datang, seolah ingin membisikkan pada hidup bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan alasan untuk tetap bertahan.

Namun di balik langkah yang tampak tenang itu, ada kenyataan yang diam-diam ia sembunyikan dari dunia.

Sepatu yang ia pakai telah jauh dari kata layak, bagian solnya mulai terlepas meninggalkan jejak kecil setiap kali ia melangkah. Tas yang ia bawa pun telah rusak, resletingnya tak lagi berfungsi, namun tetap ia sandang setiap hari karena tak ada pilihan lain yang ia miliki.

Di balik keteguhan langkah Rasidin, ada seorang ibu yang setiap hari memikul beban kehidupan dengan diam.

Ibunya bekerja sebagai buruh pengarit rumput untuk pakan sapi milik warga sekitar. Pekerjaan itu tidak ringan berhadapan dengan panas matahari, tanah yang basah, dan tenaga yang perlahan terkuras demi memastikan ada sedikit penghasilan untuk bertahan hidup hari demi hari.

Namun bagi Rasidin, semua itu bukan sekadar pemandangan. Ia melihatnya setiap hari. Ia menyaksikan bagaimana ibunya berangkat lebih awal, pulang dengan tubuh lelah, namun tetap berusaha tersenyum di hadapannya.

Sepulang sekolah, Rasidin tak langsung bermain seperti anak-anak lain seusianya. Kadang ia memilih menyusul neneknya ke sawah, membantu mengarit rumput, mengumpulkan apa yang bisa ia bantu dengan tangan kecilnya.

Bukan karena ia diminta, tetapi karena ia merasa ingin menjadi bagian dari perjuangan yang sedang ditanggung keluarganya.

Di antara lelah yang belum ia pahami sepenuhnya, Rasidin sedang tumbuh menjadi anak yang belajar bahwa cinta kepada keluarga sering kali hadir dalam bentuk paling sederhana: ikut memikul, meski hanya sedikit.

Di balik segala keterbatasan yang membingkai hari-harinya, Rasidin tetap menyimpan harapan kecil yang tumbuh diam-diam di sudut paling sunyi hatinya, harapan sederhana untuk tetap duduk di bangku sekolah, mengeja masa depan sedikit demi sedikit di tengah kerasnya hidup.

Dan di antara sunyi perjuangan itu, ia hanya ingin tetap belajar agar kelak mampu mengangkat kehidupan ibunya, sebab bagi Rasidin masa depan adalah langkah-langkah kecil yang ia jaga setiap pagi meski sepatu telah rapuh, tas telah usang, dan dunia tak selalu lembut kepadanya.

Allah SWT telah mengingatkan kita dengan penuh kelembutan:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
(QS. Ad-Dhuha: 9)

Dan Rasulullah ﷺ menjanjikan kedekatan yang begitu mulia bagi mereka yang menjaga anak yatim:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini.
(HR. Bukhari)

SAATNYA KITA HADIR UNTUK RASIDIN

Rasidin tidak lagi mengetuk dengan suara. Ia hanya menunggu dalam diam menyimpan harapan kecil agar tetap bisa melanjutkan sekolah.

Ia tidak butuh banyak. Hanya satu kesempatan untuk terus belajar dan tidak berhenti di tengah jalan.

Jangan biarkan ia menunggu lebih lama
Jadilah alasan Rasidin tetap bisa sekolah

Bantu Rasidin Sekarang

Satu kepedulianmu hari ini, bisa menyelamatkan masa depannya.